Kisah Ayam.
Di Indonesia, kalau pengen ayam, tinggal “tentukan” mau makan ayam versi apa, di mana, sama siapa. 
Di sini, kalau kepengen ayam, harus mikir dulu, nyuri waktu buat nyari ayam potong halal jam berapa, dimasak pakai resep apa, udah lengkap belum bumbunya.
Dan pada akhirnya, dengan bangga, mempersembahkan ayam bakar unyu berjahe bermandi madu bercita rasa rempah kampung Indonesia Raya. Sungguh bangga. – View on Path.

Kisah Ayam.
Di Indonesia, kalau pengen ayam, tinggal “tentukan” mau makan ayam versi apa, di mana, sama siapa.
Di sini, kalau kepengen ayam, harus mikir dulu, nyuri waktu buat nyari ayam potong halal jam berapa, dimasak pakai resep apa, udah lengkap belum bumbunya.
Dan pada akhirnya, dengan bangga, mempersembahkan ayam bakar unyu berjahe bermandi madu bercita rasa rempah kampung Indonesia Raya. Sungguh bangga. – View on Path.


.

….You realize, of course, that Hermione Granger lit a teacher on fire when she was eleven, and kept a person alive in a jar for a year when she was fourteen, and studies dark and forbidden magics for kicks, and is one of the brightest and strongest witches of her era. If she came at me, even wandless, I would aparate to Neptune to get away from her.

Hermione Granger also: 

  • punched Draco Malfoy in the nose for being an idiot 
  • purposefully performed a confundus charm on whatshsface WHILE HE WAS FLYING just so Ron would win (omfg that is so fucking dangerous) 
  • literally pulled a fucking Bourne Identity on her parents and managed to set them up in fucking Australia (jesus christ she literally made it so that she NEVER EXISTED wtf that’s so fucking 007)
  • Convinced the Ministry of Magic to give her an incredibly dangerous and volatile device that allowed her to ALTER TIMELINES COMPLETELY (just because she was so smart, literally, that is the reason, her “potential”) 
  • Has enough basic survival skills and badass magic to literally disappear to the middle of nowhere and flourish AND figure out Voldemort’s plot with Harry 
  • Hermione also figures out not only what Voldemort’s plan is, but generally how to beat it, WAY BEFORE VOLDEMORT EVER DOES. Why? because she is just that much smarter and better at magic than everybody else

in conclusion: Voldemort wishes he could be as awesome as Hermione, that’s why he wants to kill her so bad. 

Can we rehave this series with hermione as the protagonist. 

Hermione Granger and “That Time I Used the Power of Research and Deductive Reasoning to Make Sure Harry Didn’t Die”

Hermione Granger and “That time I figured shit out and literally ended up petrified for the cause and it took my friends weeks to figure out that I had the research on me”

Hermione Granger and “That Time I Was a Time Lord”

Hermione Granger and “That Time I Realized I was Hot and Smart and Saved Harry’s Ass with Research. Again. All the Time. Really, He Would Have Died Without Me.” 

Hermione Granger and “That time Harry was too emo to actually do shit so I did shit in his name because I am the power behind the throne clearly also PS fought evil deatheaters and won”

Hermione Granger and “That Time I told Harry about the Dangers of Copying off Somebody’s else’s work that wasn’t mine and OH LOOK I WAS RIGHT”

Hermione Granger and “That Time I let Harry Decide Where to Go and What To do and we ended up wandering the forests of dean for like 5 months before saving his ass at Hogwarts” 

(Source: emawattson, via nayasa)

Belajar dari Dinda.
Screen capture celotehan murni curhat dinda yg seliweran di path, twit, bahkan dibahas semi serius di beberapa blog, menimbulkan pertanyaan: path, sebuah media sosial yang dianggap bisa membatasi lingkaran teman menjadi hanya yg terdekat pun ternyata masih fail. Siapa yang bisa meng-screen capture status tersebut jika bukan teman path sendiri? Bukan 1 dari 150 pilihan teman yang dianggap “layak” utk berteman di path? Sekali lagi diajarkan oleh internet tentang kehadiran yang semu.
—-
Adalagi kisah tentang foto soal ulangan umum yang dianggap adalah pekerjaan anak yg terlalu banyak nonton tv. Pertanyaaannya, apakah itu benar-benar hasil ulangan, bukan lucu-lucuan semata hasil gubahan rekayasa terpampang nyata saja? Kemudian jika memang itu benar hasil ulangan umum, pantaskah yang demikian difoto oleh gurunya, dikomentari seperti demikian dan disebarkan? You cannot teach fish to climb like a monkey. You cannot force panda to fly like a birds. That’s the main point of education.

Salam semanis madu, manis tanpa pemanis buatan. Adios! at 神戸大学理学部 – Preview it on Path.

"At least, go out, never ever talk with your PC. Never ever talk with your dark apartment also. Yes, technology is so modern nowadays, I can talk with my siri, but it’s nonsense. All of you need is encourage and advice from others who read ur writing." - Mr. Kimura Sensei.
—-
Satu hal yg menarik dari bagaimana para sensei di sini mendidik adalah tentang tekanan sekaligus perhatian dari mereka. Kultur belajar tiap negara pasti berbeda, terlihat dari bagaimana guru kita mengajar. Menurut pendapat pribadi saya yang sering kebanyakan makan micin, tuntutan ekspektasi manusia sini memang tinggi, tetapi di saat bersamaan mereka juga tidak lupa untuk tetap memberikan perhatian. Mungkin mereka telah meresapi petuah Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.” Senseinya tau, mahasiswanya udah mulai banyak melamun dan ngaco, tetap dikasi banyak tuntutan, sekaligus diingatkan supaya ndak jadi gila.

Kurang lebih 2 bulan lalu juga pernah, saya dengan sangat lucunya menumpahkan sebotol air ke laptop, kemudian dibetulin teknisi kampus sambil bapaknya misuh-misuh, bagaimana bisa orang Indonesia menumpahkan air ke benda penting, kemudian pulang ke indonesia dengan laptop yang alhamdulillah sehat kembali. Ternyata ketika saya di indonesia, si bapa teknisi nyari nyari saya, khawatir mempertanyakan keberlangsungan nasib laptop saya. Padahal waktu liat bapaknya, khayalan saya beliau seperti Professor Agasa, terlalu banyak berinteraksi dengan mesin, mungkin kurang piknik, ternyata kebaikannya bagaikan bunga melati. Saatnya nangis pelangi penuh rasa haru.

Alhamdulillah ‘ala kulli haal. at 神戸大学 – Read on Path.

ratihandayani:

“The Qur’an is a gushing river,” he said. “Those who look at it from a distance see only one river. But for those swimming in it, there are four currents. Like different types of fish, some of us swim closer to the surface while some in deep waters below.” 

“I’m afraid I don’t understand,” I said, although I was beginning to. 

“Those who like to swim close to the surface are content with the outer meaning of the Qur’an. Many people are like that. They take verse too literally. No wonder when they read a verse like the Nisa, they arrive at the conclusion that men are held superior to women. Because that is exactly what they want to see.” 

“How about the other currents?” I asked. 

Shams sighed softly, and I couldn’t help noticing his mouth, as mysterious and inviting as a secret garden. 

“There are three more currents, the second one is deeper than the first, but still close to the surface, as your awareness expands, so does your grasp for the Qur’an. But for that to happen you need to take the plunge.” 

Listening to him, I felt both empty and fulfilled at the same time. 

“What happens when you take the plunge?” I asked cautiously. 

“The third undercurrent is esoteric, batini, reading. If you read the Nisa with your inner eye open, you’ll see that verse is not about women and men but about womanhood and manhood. And each and every one of us, including you and me, has both femininity and masculinity in us, in varying degrees and shades. Only when we learn to embrace both can we attain harmonious Oneness.” 

— 

Elif Shafak, The Forty Rules of Love

Padahal belum pernah ketemu sama yang ngasi buku. Malah bukunya duluan yang udah terbang dari Jakarta ke sini. Selama ini sebenarnya saya agak skeptis dengan buku-buku nasehat pernikahan, isinya pasti itu-itu aja. Ehehehhe sombong banget ya? Tapi kan kalau mau ulangan umum aja perlu belajar, masak untuk pernikahan yang nilainya sakral dan in shaa Allah benar-benar cuma sekali aja belajarnya juga malas? Terima kasiiiiihhh @ann_icca, bukunya sungguh bertabur cinta. Sengaja ndak langsung diposting karena mau dikhatamkan dulu ( eh pas mau diposting malah bukunya sempat sembunyi ). Sempat jadi teman berjalan kesana kemari. Ilmu dan pahalanya juga semoga selalu mengalir yaaa. Untuk teman-teman dan adik-adik sangat direkomendasikan loh baca ini. Iseng-iseng pasti berhadiah. Aaaahhh mau nangis pelangi. 🌸👭😍

Padahal belum pernah ketemu sama yang ngasi buku. Malah bukunya duluan yang udah terbang dari Jakarta ke sini. Selama ini sebenarnya saya agak skeptis dengan buku-buku nasehat pernikahan, isinya pasti itu-itu aja. Ehehehhe sombong banget ya? Tapi kan kalau mau ulangan umum aja perlu belajar, masak untuk pernikahan yang nilainya sakral dan in shaa Allah benar-benar cuma sekali aja belajarnya juga malas? Terima kasiiiiihhh @ann_icca, bukunya sungguh bertabur cinta. Sengaja ndak langsung diposting karena mau dikhatamkan dulu ( eh pas mau diposting malah bukunya sempat sembunyi ). Sempat jadi teman berjalan kesana kemari. Ilmu dan pahalanya juga semoga selalu mengalir yaaa. Untuk teman-teman dan adik-adik sangat direkomendasikan loh baca ini. Iseng-iseng pasti berhadiah. Aaaahhh mau nangis pelangi. 🌸👭😍

Kobe. 11042014. 17:31. 

Kalau ndak salah tumblr saya ulang tahun yang ke-4 di tanggal 9 atau 19 April deh, jadi umurnya 4 tahun. Wihiiiii.

Karena tadi niat nyari arsip sejak pertama bikin tumblr, akhirnya jadi ketawa sendiri, ternyata dulu saya “segitunya” ya? Ahahahhahahahaha, biarpun banyak bikin malu, tapi Alhamdulillah begitu rapi tumblr merekam perkembangan ( semoga memang berkembang ) kejiwaan saya.

Sekarang memang jaraaaaaaaaaang sekali update di tumblr. Jadi sedih. Sekaligus iri, kepada isni dan dani yang masih bersemangat dan begitu lepas menulis. Walaupun saya jauhhh banget kadarnya dari pikiran Dani yang beracun dan dek Isni yang semangat kebaikannya ndak habis-habis, tapi rasanya ada ada ada yang sungguh menggugah dari 2 orang idola saya ini.

Tumblr, bagi saya bukanlah tempat sampah, di mana kita perlu mengurangi pikiran-pikiran berlebihan di kepala, seperti Dumbledore nya Harry Potter yang mengeluarkan benang-benang perak ke baskom pensieve-nya. Kalau mau cari kambing hitam, kayaknya saya mulai pendiam banget di tumblr sejak saya ada path dan instagram deh. Rasanya memang lebih praktis bercerita di sana. Tapi tetap saja sensasinya beda dengan tumblr. Tumblr adalah tempat saya bertemu banyaaaaaak orang hebat, tempat saya bersembunyi, tempat saya belajar, tempat saya banyak membentuk diri. Tumblr adalah salah satu cara saya “menciptakan keluarga”.

Rasanya saya yang dulu jauuuhhh lebih “hidup” daripada yang sekarang. 

*lanjut ketawa-ketawa malu-malu lagi melihat arsip JGNM saya, melihat jaman masih suka nulis puisi, jaman masih suka reblog gambar curcol, jaman masih jejeritan kalau liat coldplay.*

Kalau bagi kalian, tumblr tempat ngapain hayo ?

Kobe. 16:59. 11042014. Beyonce - Listen.

Manusia berusia 20an pertengahan mungkin adalah manusia yang sedang lucu-lucunya. Tidak heran jika banyak yang berakhir pada upaya bunuh diri dan meninggal di usia 27an. 

Pada usia ini semakin banyak pertanyaan yang berasal dari diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang liar dan meledak-ledak. Jelaslah beruntung yang telah mengalami fase ini sejak usia belasan. Tapi tentu beda tingkatan ketika mengalami pertanyaan ini di usia “yang lagi lucu-lucunya” ini.

Ada yang keberatan jika saya katakan bahwa fase ini adalah fase “krisis identitas”?

Misalnya, bagi para banyak kaum perempuan, mulai cemas jika belum menikah *ahahahahaha iyaaaa, saya mengalami ini ketika saya berusia 22an, ketika banyak teman menikah, dan saya masih terlalu suudzon kepada rencana dan janji Allah.

Bagi para kaum lelaki, mulai ketar-ketir jika masih status jomblo? Mwehehehehehe tuuuhh, tinggal saling melengkapi kok sama perempuan-perempuan “kebelet nikah”. 

Sesekali sering pula terdengar celetukan dari teman yang sudah menikah dan beranak: enak kalau masih belum nikah, bisa kemana-mana dengan gampang, belum punya ekor dan tanggung jawab lebih. Nah loh, manusia banget ya, yang belum nikah ingin nikah, yang udah nikah pengen balik bentar ke masa lajang. Tapi kan hidup itu in shaa Allah bukan hanya mencari enak, tapi mencari manfaat.

Jenis krisis identitas yang pernah saya alami dulu kala? Hehehehe saya pernah krisis identitas karena merasa tidak punya warna favorit *rasanya ini pernah saya tuliskan sekitar tahun 2010an*. Duuuh malunya, sementara teman-teman seumuran pikirannya udah kritis kemana-mana, saya malah mikir kok saya ndak punya warna favorit, tidak seperti teman saya si anu yang hampir semua brangnya warna kuning atau si itu warna hijau. Pada saat itu sekalian deh galaunya saya di-combo dengan tidak punya tokoh kartun favorit. Si wana, teman saya paling suka doraemon. Ada juga kirnia, paling suka rilakumma. Saya? Saya suka hampir semua. Tahun lalu saya kena krisis identitas ala ababil ini lagi, karena saya tidak mengerti sama sekali dengan demam korea, di saat hampir semua teman, tidak laki maupun perempuan, bahkan yang paling idealis, bahkan yang paling rocker, menjadi penggila korea juga, saya masih gini-gini aja, masih ngeliat semua mukanya sama.

Pertanyaannya, kenapa sih saya suka aneh begitu? Jawabannya saya temukan. Karena saya terlalu memperhatikan, karena saya terlalu membandingkan, tidak fokus sama diri sendiri, sehingga untuk beraksi nyata pun jelas ketinggalan. Misalnya, kalau pergi makan sama si Barry, Otong, dan Restu, Barry ini paling suka makan kwetiaw goreng, Restu dan Otong juga ikut makan, tapi kegemaran Restu lebih kepada mpek-mpek, Otong juga lebih suka nasi goreng-tidak pakai bawang goreng-tidak pakai timun-ditambahi banyak merica, Restu tidak terlalu suka, kalau Barry juga suka. Saya? Saya suka semuanya.

Saya juga dulu terlalu sibuk membandingkan, kalau teman saya suka korea lalala, kenapa saya tidak suka? Kemudian pusing sendiri. Padahal yang kayak begini ya ndak usah dipertanyakan lagi. 

Kembali kepada topik kegalauan manusia 20-an, serangan galau ini sungguh tidak mengenal tempat dan kesempatan, beberapa waktu lalu setelah haha hihi liburan, teman saya tiba-tiba bertanya, “Arti hidup sebenarnya untuk apa?” Nah loh, kalau nanya begini sama motivator dan orang sukses manapun, jelas akan berbeda jawabannya, tergantung kepada kita, mau ikut yang mana, karena kembali lagi, jelas kita punya pilihan, mau percaya yang mana.

Pertanyaan-pertanyaan “aneh” ini akan selalu datang, karena manusia adalah makhluk yang unik, dengan berpikirlah maka kita tetap hidup, dan akan semakin hidup. Tentang cara menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh kita tersebut adalah, dengan semakin membuka mata kepada alam, mendengarkan dengan hati, membuka diri. Perubahan besar, selalu dimulai dengan langkah-langkah kecil. Kalau suka lagu Dunia Sandiwara Nicky Astria, pasti pernah dengar lirik “setiap kita, dapat satu peranan, yang haruuuuuus kita mainkan.” Jangan takut, semoga selalu tidak takut, karena kita punya Tuhan, yang selalu sayang, yang paling sayang. Setiap pertanyaan pasti ada jawaban, setiap kesulitan pasti dibersamai kemudahan.

Alhamdulillaah ‘ala kulli haal.

Salam JGNM!

image

*jangan sampai kita kalah sama bunga rumput kecil, walaupun bakal diinjak, tetap pede tumbuh di sana-sini menghiasi hari-hari syalalala. 

Kobe. 11042014. 16:50. Eliza Doolittle - Creep.

Rasanya sudah berulang kali saya tuliskan, baik sebagai pengingat kepada diri sendiri ataupun ketika saya rasakan emosinya lebih baik dituliskan, bahwa saya paling sulit menyamakan frekuensi saya dengan manusia yang selalu saja cenderung mengeluh.

Allah telah sampaikan di dalam Quran, di Surah Al Ma’arij ayat 19-21: “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali ….” (hayoooo penasaran? mari silakan buka Quran atau google nya) tetapi untuk manusia yang senang mengeluh-mengeluh, entah kenapa, saya rasanya selalu saja terlalu sulit untuk menaruh toleransi.

Bukan berarti saya tidak pernah mengeluh, atau lebih buruknya lagi, terpeleset berprasangka buruk pada takdir Tuhan (tulisan ini aja sifatnya kan mengeluh-tentang-orang-yang-suka-mengeluh). Seringkali ketika saya mencoba muhasabah, ada godaan keluhan yang melintas beterbangan di kepala.  Misalnya nih, kalau pusing dengan urusan kampus, dan godaan kampus tetangga yang terlihat lebih penuh keria-ria-an, saya coba tangkis lagi dengan pikiran bahwa Allah pasti tempatkan kita di posisi yang terbaik, kalau bukan di kampus ini, ndak mungkin saya ketemu si A, B, C, D yang baik lagi menawan kepribadiannya. Mengeluh, menurut saya, mungkin secara potensial dimiliki oleh manusia yang kritis. Jelas baik  jika keluhannya tersebut membawa kepada yang lebih baik. Jika keluhannya berasal dari pertanyaan-pertanyaan atas ketidaksesuaian yang ada di sekitarnya, kemudian pertanyaan ini dijawab dengan tindakan penyelesaian yang nyata. Tetapi jika mengeluh ini hanya karena merasa tidak pernah puas, tidak solutif, terlebih lagi, hanya untuk mencari siapa yang salah, maka maafkan, saya lebih baik diam, dan menjauh.

Hidup itu indah, tetapi tidak pernah dijanjikan dapat dijalani dengan sangat mudah. Maka jika ingin menjadi lebih mudah, maka semoga menjauh-dari-yang-senang-mengeluh adalah bukan jawaban yang salah. Bagi yang masih ingin mengeluh, selamat berkeluh pada tempatnya, pada sajadah panjang, sujud terdalam, dan yang mendampingi. Cupcupcup.

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

image

“Peraturan Nomor 3 Tahun 2014:
Gimana bisa yakin bersama orang lain, kalau sama diri sendiri juga masih belum bisa beres? Ndak perlu mundur jauh sama diri yang kemarin. Berdamai saja dulu dengan diri yang sekarang. Dirimu musuhmu. Dirimu penolongmu.”
APK